~ Rahmat Mulia Harahap ~
Barisan akasia dipinggir jalan masih menggigil oleh kelopak embun yang melekap di permukaan daunnya. Kabut tipis melingkupi membuat jalanan yang lengang tambah sunyi. Udara tambah menusuk dalam terobosan laju motor tuaku. Suaranya bagai lenguh sapi yang tali hidungnya ditarik paksa. Tidak rela dipacu menembus dingin pagi. Motor melaju ngos-ngosan persis kakek tua yang dipaksa jalan. Tapi justru membantuku yang sudah meligih untuk lebih awas memperhatikan jalanan yang berkabut.
Melewati sebuah tikungan,tiga meter di depanku persis di mulut simpang masuk ke komplek sekolah sebuah yayasan, samar-samar dalam selubung kabut mataku menangkap sebuah benda tergeletak diaspal yang basah. Sepertinya sebuah telepon genggam. Aku menghentikan motor dekat benda itu. Benar ! Sebuah telepon genggam yang nampak basah oleh titik embun. Mendadak aku gugup. Kuperhatikan sekeliling kalau ada orang yang mengawasiku. Tanpa turun dari motor aku menunduk memungut telepon itu dan cepat-cepat memasukkannya ke kantong jacket. Kemudian memutar motor kembali dan segera meninggalkan simpang itu dengan dada berdebar-debar.
Sampai di rumah sebelum jacket kubuka aku keluarkan telepon itu dari kantong. Kemudian dari saku baju aku keluarkan juga telepon genggam milikku yang sudah hampir setahun ini menghadirkan kebanggaan dihatiku. Kedua telepon genggam itu kuletakkan sejajar di atas meja. Telepon genggamku langsung mengkeret kehilangan pesonanya berdampingan dengan telepon yang barusan aku temukan. Kebetulan merk kedua telepon itu sama hanya telepon yang baru aku temukan keluaran terbaru.
Kuhenyakkan pantat di kursi mengamati dua telepon genggam yang membisu di atas meja. Dan saat mataku memperhatikan telepon yang barusan aku temukan, segera beberapa Aku diriku yang lain berhamburan saling berebutan untuk ikut menyaksikan telepon genggam yang bentuknya lebih mungil dari telepon genggam milikku. Aku tidak tahu dari mana, tadi mereka ada dimana, kenapa baru saat aku memperhatikan telepon yang baru aku temukan mereka berbondong-bondong keluar. Bagai hempasan titik hujan menerpa atap seng berbagai komentar bersileweran mendengung ramai. Sebelum akhirnya perlahan menyusut ketika Aku diriku yang satu bertanya heran, “ Koq bisa ya orang kececeran barang semahal ini ?” sambil berputar-putar mengamati telepon genggam yang harganya mungkin tiga atau empat kali lipat dari harga telepon genggamku ketika masih baru. Sedang Aku diriku yang lain tertawa dengan mata berbinar-binar, “ Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba, bosan telepon lama ketemu telepon baru !”
Lama-lama memperhatikan telepon genggam yang baru aku temukan aku mulai tergoda untuk memikinya. Husss ! Buang pikiran itu jauh-jauh. Aku diriku yang satu memperingatkan. Lebih baik hu bungi yang punya agar bisa dikembalikan. Lho,koq dikembalikan ! Teriak aku diriku yang lain sengit. Jangan..! Jangan dikembalikan, itu rezki dari Tuhan, lanjutnya. Disambut gempita oleh aku-aku diriku yang lain mengiyakan. Suara mereka bergemuruh menciptakan kebisingan di dalam diriku. Aku raih telepon genggam itu dari atas meja. Kuperhatikan lebih seksama, kuputar, kubalik dan mengaktifkannya. Beberapa detik kemudian di layarnya terbaca nama sebuah network selular.
Aku terlonjak dari kursi, ketika tiba-tiba telepon di tanganku berbunyi cukup keras. Gila..! Bunyi handphone koq distel kayak alarm kebakaran saja ! Aku diriku yang lain mengumpat sedangkan aku diriku yang satu hanya tersenyum-senyum, barangkali yang punya telepon genggam ini punya sindrome megaloman juga. Pikirnya. Aku tekan tombol untuk menjawab sambil mendekatkan telepon ke telingaku. Jangan bicara, dengarkan saja ! Aku diriku yang lain memperingatkan.
“ Halo Pak, Ibu atau siapapun yang menemukan telepon ini !” terdengar suara seorang laki-laki. Aku menduga dari suaranya orang ini masih muda mungkin masih pelajar, “ Tolong Pak, Ibu ! Jawab saya! Bapak ini dimana. Ibu ini siapa ?” Aku hanya mendengarkan tidak mencoba menjawab. Suara itu terus memohon dengan mengulang kata-kata yang sama. Lama-lama mendengarnya telingaku berdengung bagai dimasuki kawanan lebah. Aku tekan tombol menghentikan pembicaraan.
Telepon genggam itu kuletakkan kembali di atas meja dan beranjak ke kamar kecil untuk membuang sisa metabolisme yang dari tadi oleh karena udara dingin sudah menyesak untuk diselesaikan. Tapi sebelum tanganku menyentuh daun pintu kamar kecil di sudut ruangan telepon itu berbunyi lagi. Aku tertegun sejenak tapi tetap kulanjutkan masuk ke kamar mandi. Bersamaan aku keluar dari kamar kecil, aku-aku diriku yang lain juga kembali bermunculan bahkan saling mendorong untuk dapat tempat di depan. Telepon aku ambil dan mendekatkannya ke telinga setelah menekan tombol untuk menjawab.
“ Hallo Pak, Ibu ! Saya minta tolong bapak atau ibu mau mendengar saya !” suara itu berubah nadanya dari suara pertama tadi, lebih serius ada kesedihan yang berbaur dengan nada mengharap. Aku-aku diriku yang lain tidak ada yang mencoba bersuara.
“ Pak,Ibu. Tadi pagi waktu pulang kerja karena buru-buru aku tidak sadar telepon itu terjatuh entah dimana. Aku baru tahu setelah sampai di rumah dan langsung berusaha mencarinya dengan kembali menyusuri jalan yang aku lewati dari apotik tempatku bekerja tapi sampai aku bolak balik berapa kali telepon itu tidak aku temukan.Dan sekarang aku bersyukur Bapak atau Ibu yang menemukan telepon itu karena saya yakin Bapak atau Ibu akan mengembalikan telepon orang yang tidak punya apa-apa seperti saya ini.” Aku sedikit terkejut dengan kelancaran orang ini bicara begitu juga aku-aku diriku yang lain cukup kaget, “ Pak, Ibu jangan punya pikiran bahwa aku orang yang cukup berada. Aku masih sekolah sambil bekerja sebagai pengantar obat untuk dapat membiayai sekolah dan hidupku. Telepon itu diberikan bosku yang punya apotik untuk memperlancar pekerjaan dan dibayar secara kredit dan sampai sekarang belum lunas. Jadi saya minta tolong dengan sangat tolonglah Pak telepon itu dikembalikan, saya bersedia menebusnya !” Suara orang itu berhenti. Aku tunggu tapi tidak terdengar lagi sambungnya.
Ah…itu cerita yang dibuat-buat agar kita kasihan dan mengembalikan telepon genggamnya. Tidak usah dipercaya, yang jelas orang ini adalah orang yang tidak bisa bersyukur karena tidak mampu menjaga nikmat yang diberikan Tuhan padanya. Aku diriku yang lain berkata memecah kesunyiaan. Suasana dalam diriku kembali ramai. Sebagian besar aku-aku diriku mulai setuju dengan argumen yang disampaikan aku diriku yang lain. Kehilangan telepon ini memang menjadi pengalaman pahit bagi yang punya. Tapi bukankah pengalaman pahit ditinjau dari persfektif waktu akan menjelma menjadi kebahagian? Sedangkan saat-saat menyenangkan hanya akan melahirkan rangkaian rasa sesal berkepanjangan. Sehingga dengan tidak mengembalikan telepon ini tanpa disadari yang punya kita justru telah menghadirkan kebahagian abadi di hatinya. Membebaskan dia dari penderitaan yang akan dialaminya di waktu mendatang akibat rasa senang yang dirasakannya sekarang dengan memiliki telepon genggam itu. Lanjut aku diriku yang lain meyakinkan membuat riuh dalam diriku dengan suara-suara setuju mendukung pendapat aku diriku yang lain.
Ditengah pikuk suara-suara itu, tiba-tiba aku diriku yang satu tampil kedepan dan dengan tenang berkata, “ Tapi ingat, bukankah kalau kita menemukan sesuatu benda atau barang yang tahan lama tanpa tahu siapa yang punya kita harus berusaha mengembalikan barang tersebut dengan cara mengumumkannya di tempat-tempat umum dan menunggu selama setahun sampai yang punya datang. Kalau tidak ada yang datang baru benda itu halal kita pergunakan.” Dengan lantang aku diriku yang satu membantah pendapat aku diriku yang lain.
“ Astaghfirullah…! “ Aku kembali pada kesadaranku, “ Mengapa aku biarkan suara-suara menyesatkan itu menguasai diriku. Padahal Sang Khalik telah menyerahkan diriku menjadi pemilik tunggal tubuh dan jiwa ini. Aku yang menentukan apakah mau berjalan pada peta kejernihan atau bergulat di guratan kegelapan.”
Telepon genggam itu kembali berbunyi. Segera aku angkat. Aku tepiskan suara-suara yang mencoba menyesatkan suara aku diriku yang satu.
“ Hallo Pak, Ibu ! Bicara dong!”
“ Ya, ini saya bicara.” Sahutku pendek.
“ Oh…terima kasih Pak!” Orang itu terkejut sekaligus senang yang aku rasakan dari getar suaranya serta iringan napasnya yang terdengar jelas.
“ Mas, saya yang temukan teleponnya dan saya akan mengembalikannya !”
“ Tetterimakasih. Terima kasih banyak Pak. Ssssaya…saya akan hargai kebaikan Bapak. Dimana saya bisa ketemu Bapak?” Orang itu semakin gugup tapi tetap tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.
“ Kita ketemu satu jam lagi di terminal. Mas lihat saya di angkot jurusan kilometer enam.” Telepon aku tutup dan memasukkannya ke kantong baju. Telepon genggamku kumasukkan ke kantong celana dan bergegas keluar menyetop dan naik angkot yang kebetulan lewat.
“ Pak ! Pak ! Terminal habis. Terminal habis..” Teriak supir angkot membangunkan aku. Aku terkejut kemudian bengong, tinggal aku lagi di dalam angkot.
“ Terminal habis, Pak!” ulang supir angkot karena melihat aku masih belum beranjak. Buru-buru aku merogoh uang dua ribuan dari kantong dan menyerahkan pada supir sambil keluar dari angkot.
Aku berdiri di tengah hiruk pikuk terminal, perlahan kesadaranku pulih dan ingat untuk apa aku ke terminal. Serta merta tanganku meraba kantong baju. Jantungku langsung berdenyut kencang ketika merasakan telepon itu tidak ada. Tanganku berpindah meraba kantong celana juga tidak ada. Aku lemas, dengan gugup aku merabai semua kantongku, tapi sia-sia, kemana telepon itu? Siapa yang telah mengambilnya dari kantongku? Tubuhku lunglai menyesali kenapa aku tadi ketiduran di dalam angkot. Mataku merayapi terminal mencari angkot yang kunaiki tadi.Aku ingin berlari mengejarnya siapa tahu telepon itu hanya terjatuh disana. Tapi otot-otot kakiku tidak berdaya terasa seperti lumer berserakan di atas hitam aspal terminal. Pada saat ini aku merasa lebih baik jadi abu yang melayang di tengah terminal biar tidak bisa membayangkan orang yang punya telepon genggam itu menunggu dan terus menunggu dengan harapan membuncah akan mendapatkan telepon genggamnya kembali.
Palembang, Medio 2011.
http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/07/25/aku-dalam-diriku/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar